Kamis, 06 Oktober 2016

Resume Jurnal Ekonomi Koperasi



Resume Jurnal
PERINGKAT PROPINSI DALAM MEMBANGUN EKONOMI KOPERASI
ANALISIS BERDASARKAN INDEKS PEKR
 
 
I. PENDAHULUAN
Pasca krisis ekonomi Indonesia telah memasuki usia satu dekade. Kemajuan perekonomian Indonesia secara mendasar masih belum signifikan, meskipun stabilitas ekonomi makro telah pulih, khususnya dari indikator nilai tukar rupiah yang stabil, inflasi yang terkendali, dan neraca perdagangan luar negeri yang positif, yang didukung oleh stabilitas politik. Sektor riil masih belum berkembang secara signifikan sejalan dengan stabilitas makro. Perekonomian secara mikro masih belum terpulihkan secara nyata karena engine of growth yang penting, yakni investasi dan dunia usaha, belum terpulihkan. Pangsa investasi terhadap PDB masih sekitar 22% selama ini, sangat jauh dari harapan untuk menjamin bergeraknya sektor riil. Untuk stabilitas sektor riil semestinya pangsa investasi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) di atas 35%. Sementara target pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan dukungan investasi yang tinggi pula baik dari investasi langsung nasional maupun asing (FDI). Dunia usaha, khususnya lembaga koperasi, belum menjadi andalan dalam menggerakkan sumberdaya domestik. Itu sebabnya, pengangguran  dan kemiskinan masih menjadi persoalan pokok pembangunan ekonomi yang tidak hanya  di perdesaan juga sudah menggapai perkotaan. Pengangguran dan kemiskinan di kota terjadi lebih diperparah oleh urbanisasi orang-orang dari pedesaan yang umumnya tidak mempunyai keterampilan dan keahlian di bidang usaha yang berciri perkotaan.
Persoalan mendasar yang menjadi penentu kemampuan menarik investasi ke Indonesia adalah iklim investasi dan bisnis yang tidak kondusif dan juga pembangunan koperasi adalah salah satu strategi setiap kepala daerah dalam pembangunan ekonomi.
Perekonomian daerah yang tinggi dapat patut dipertanyakan mengingat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah-daerah di Pulau Jawa dan Bali yang paling tinggi di Indonesia, ketersediaan infrastruktur yang lebih baik dari wilayah lainnya, serta jumlah penduduk yang banyak seyogianya mencerminkan kemampuan yang lebih tinggi Pulau Jawa dan Bali dalam mengembangkan ekonomi koperasi. Tulisan ini merupakan hasil analisis terhadap performa propinsi alam pengembangan ekonomi koperasi pada tahun 2006 dengan menampilkan posisi atau peringkat propinsi dalam pengembangan 3 ekonomi koperasi. Dengan menggunakan metode indeks, analisis ini menarik untuk disimak karena dapat menjadi gambaran bahwa ukuran perekonomi daerah yang kuat tidak mencerminkan sepenuhnya kemampuan mengembangkan ekonomi koperasi. 

II. METODE ANALISIS
Metode Analisis ini menggunakan data sekunder yang agregatif yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS), dan Bank Indonesia (BI) yang tertampil dalam website masing-masing lembaga. Data PDB dan PDRB adalah masing-masing pendapatan domestik bruto Indonesia dan propinsi. Sedangkan data volume usaha adalah nilai total volume usaha koperasi baik propinsi maupun nasional pada tahun 2006. Seyogianya, performa tahun 2007 lebih mutakhir digambarkan dalam analisis ini. Namun data PDRB tidak tersedia. Bahkan untuk tahun 2006, sebagian propinsi belum mampu menampilkan data PDRB.Sehingga penulis melakukan elaborasi berdasarkan ukuran tahun-tahun sebelumnya dengan asumsi, pangsa propinsi terhadap nasional hampir tidak berubah dalam jangka pendek. Dalam analisis ini dimasukkan juga bagaimana perbedaan performa pengembangan ekonomi koperasi di Kawasan Barat Indonesia (KBI) yang terdiri dari Pulau Sumatera, Jawa dan Bali, dan sisanya Kawasan Timur Indonesia (KTI).

III. HASIL ANALISIS
3.1. Rating dan Peringkat Propinsi
Sebagaimana terlihat dalam metode analisis, IPEK merupakan ukuran rating propinsi dalam performa ekonomi koperasi. Menampilkan hasil perhitungan IPEK sesuai dengan persamaan (3). Pada tahun 2006, sebaran rating propinsi sangat beragam. Rating tertinggi adalah mencapai 5.6086 dan terrendah 0.1224. Rating 5.6086 menunjukkan bahwa performa ekonomi koperasi regional mencapai 5.61 kali lebih tinggi daripada kemampuan ekonomi regionalnya. Dengan kata lain, setiap 1% pangsa ekonomi regional terhadap nasional akan menciptakan 5.61% ekonomi koperasi regional. Rating 0.1224 berarti setiap 1% pangsa ekonomi regional hanya menciptakan 0.1224% ekonomi koperasi atau 87.76% di bawah kapasitas ekonomi regionalnya.
Berdasarkan Rating dan Peringkat Propinsi Tahun 2006 berdasarkan IPEK mencapai IPEK>1 hanya 12 propinsi atau 36.4% dari seluruh propinsi, selebihnya 64.6% di bawah nilai satu(IPEK<1). Hasil dari analisis ini memperlihatkan suatu hal yang tidak disangkasebelumnya secara radikal. Justru rating tertinggi dicapai oleh Propinsi Gorontalo (5.6086) dan terrendah Propinsi Kepulauan Riau (0.1224). Rating tinggi dicapai oleh 12 propinsi, yakni Gorontalo, Bali (3.5734), Jawa Timur (2.3627), Maluku (2.3113), DI Yogyakarta (1.7472), Jawa Tengah (1.6723), NTB (1.3200), Sumatera Selatan (1.2468), Sulawesi Utara (1.1426), Sulawesi Selatan (1.0870), Lampung (1.0632), dan Sulawesi Tenggara (10239). Dengan rating tersebut, maka secara berurutan peringkat-1 diduduki oleh Propinsi Gorontalo, dan seterusnya sesuai dengan rating di atas. Hal yang mengejutkan lagi adalah propinsi yang selama ini diketahui selalu menunjukkan jumlah koperasi yang banyak ternyata tidak selamanya mampu menduduki posisi tertinggi dalam mengembangkan ekonomi koperasi. Hal ini terlihat misalnya Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Riau. Bahkan posisi DKI Jakarta terpuruk pada urutan ke-21. Performa pengembangan ekonomi koperasi berdasarkan pulau juga menunjukkan pola yang sama dengan propinsi. Sedangkan berdasarkan kawasan (KBI dan KTI) sejalan dengan kondisi obyektifnya. Berdasarkan pulau, rating tertinggi mencapai 2.118 dan terrendah 0.1530. Tedapat empat dari tujuh pulau yang mencapai rating IPEK>1, dan tiga pulau di bawah satu (IPEK<1). Peringkat berdasarkan pulau dalam pengembangan ekonomi koperasi dengan rating di atas satu adalah secara berturutan adalah Bali & Nusa Tenggara (1), Maluku (2), Jawa (3), Sulawesi (4). Sedangkan IPEK<1 adalah Sumatera (5), Kalimantan (6), dan Papua (7). Posisi Pulau Jawa dan Sumatera yang hanya pada peringkat-3 dan peringkat-5 memang patut dipertanyakan. Kelebihan kemampuan dan aksesibilitasPulau Jawa dan Sumatera ternyata tidak menjamin posisinya tertinggi.
 3.2. Ukuran Ekonomi Regional
Sejauh mana kemampuan ekonomi relatif regional/propinsi terhadap nasional merupakan ukuran ekonomi regional atau kapasitas dari propinsi tersebut dalam bidang ekonomi. Kapasitas itu diukur berdasarkan PDRB dan PDB yang biasa digunakan untuk mengukur perekonomian. Sepanjang tahun 2001-2005, PDB Indonesia mencapai rata-rata Rp1921.96 triliun per tahun. Selama kurun waktu tersebut, kontribusi PDRB terhadap PDB tertinggi adalah Propinsi DKI Jakarta, mencapai 15.7-18.4% atau rata-rata 16.6% per tahun, menyusul Jawa Timur 13.9-15.2% atau rata-rata 15% per tahun, dan Jawa Barat 13-14.9% atau rata-rata 13.6%, dan terrendah adalah Propinsi Gorontalo, sebesar rata-rata 0.12%. Propinsi-propinsi di Jawa, kecuali D.I .Yogyakarta dan Banten, termasuk penyumbang pendapatan terbesar secara nasional.
Pada tahun 2006, PDB Indonesia telah mencapai Rp3339.48 triliun.Kontribusi ekonomi regional terhadap PDB tertinggi adalah 0.1502 atau 15.02% dari PDB dan terrendah adalah 0.0007 atau hanya 0.07% dari PDB. Kontribusi ekonomi regional rata-rata adalah 0.0303 atau 3.03%. Oleh karena itu kontribusi di atas 3.03% telah menunjukkan yang tinggi dalam perekonomian. Pada Grafik 1 terlihat DKI Jakarta adalah propinsi yang mempunyai kapasitas ekonomi regional tertinggi dengan UER sebesar 0.1502 dan Gorontalo yang terendah, sebesar 0.0007. Propinsi yang mempunyai kapasitas ekonomi regional yang tinggi hanya sebanyak 7 (tujuh), yakni secara berturutan. DKI Jakarta (1), Jawa Timur (2), Jawa Barat (3), Jawa Tengah (4), Kalimantan Timur (5), Riau (6), dan Sumatera Utara (7), selebihnya rendah dan sangat rendah. Kelompok propinsi terrendah kapasitas ekonomi regional sebanyak 14 propinsi dan Maluku, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Gorontolo merupakan kelompok paling rendah. Posisi ekonomi propinsi ini sejalan dengan gambaran perbedaan kapasitas kawasan antara KBI dan KTI dimana kontribusi ekonomi KBI mencapai 77.8% terhadap nasional.
Dilihat dari ukuran Ekonomi Regional Tahun 2006, tinjauan kapasitas ekonomi berdasarkan pulau besar di Indonesia, yang juga terungkap dalam riset ini. Propinsi-propinsi yang berada di Pulau Jawa dan Sumatera mendominasi perekonomian nasional karena lebih dari 75% kapasitas nasional merupakan porsi Jawa dan Sumatera. Selanjutnya terlihat porsi Pulau Jawa saja mencapai lebih dari separuh nasional, yakni 55.6%, menyusul wilayah 9 Pulau Sumatera mencapai lebih dari 20%. Sisanya, sebesar 23%, dibagi oleh wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku. Hal ini menunjukkan kapasitas ekonomi propinsi-propinsi di Jawa dan Sumatera jauh lebih besar daripada propinsi di luar kedua pulau tersebut. Dari sisi kawasan, regional economic size KBI juga sangat tinggi, mencapai 77.9%, sedangkan sisanya kapasitas KTI hanya sekitar 15.7%. Pola perekonomian ini menunjukkan disparitas yang sangat tinggi tidak hanya dalam satu pulau, antar pulau, juga antar kawasan. Artinya, kemampuan ekonomi Jawa dan Bali dan propinsi di KBI jauh lebih tinggi daripada lainnya.
3.3. Ukuran Ekonomi Koperasi Regional
Tinjauan dari sisi pulau pada tahun 2006, koperasi di Pulau Jawa mendominasi perekonomian koperasi dengan kontribusi terbesar. Pada Ukuran Ekonomi Regional tahun 2006 terlihat ukuran ekonomi koperasi di Jawa mencapai angka 0.7530. Nilai UEKR rata-rata adalah 0.1429, sehingga setiap wilayah yang memperoleh UEKR di atas 0.1429 termasuk kategori tinggi. Jadi hanya Jawa yang termasuk kategori tinggi, sedangkan Sumatera masih di bawah rata-rata, yakni dengan UEKR sebesar 0.1326. Apabila Jawa dan Sumatera digabung maka nilai UEKR mencapai 0.8959 11 atau mendominasi sebesar 89.59% ekonomi koperasi Indonesia. Sisanya dibagi oleh Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Berdasarkan kawasan, KBI sangat mendominasi ekonomi koperasi nasional dengan UEKR mencapai 0.9075, artinya sebanyak 90.75% ekonomi koperasi nasional merupakan sumbangan koperasi di KBI. Performa ekonomi koperasi tersebut di atas mencerminkan ketimpangan antar propinsi, antar pulau, dan antar kawasan.
Kapasitas ekonomi regional, yakni propinsi, pulau, dan kawasan,berdasarkan UER dan UEKR yang tinggi ternyata belum menjamin tingginya peringkat propinsi itu dalam performa ekonomi koperasi. Sebagaimana uraian pada Bab Rating dan Peringkat, terungkap bahwa IPEKR beberapa propinsi yang memiliki kapasitas tinggi baik ekonomi regional maupun ekonomi koperasi. Hanya Jawa Timur dan Jawa Tengah yang masuk dalam kategori performa baik. Sedangkan Jawa Barat, Sumatera Utara, dan DKI Jakarta tidak termasuk sebagai propinsi yang performanya baik. Justru sebagian besar propinsi yang kapasitas ekonomi regional yang rendah menduduki posisi tinggi dengan performa baik. Mengapa bisa begitu? Hal itu disebabkan oleh kapasitas ekonomi regional yang tinggi tidak mampu menjadi penggerak ekonomi koperasinya. Artinya,pengembangan ekonomi koperasi di bawah kemampuan atau potensi ekonomi yang dimiliki. Misalnya Jawa Barat dengan UER sebesar 14.18% hanya mampu menciptakan UEKR sebesar 14.14%. Demikian juga DKI Jakarta dengan UER 15.02% hanya mampu menciptakan UEKR sebesar 7.8%. Sementara Gorontalo yang hanya mempunyai kapasitas ekonomi regional sebesar 0.07% malah mampu menciptakan ekonomi koperasi sebesar 0.37%. Demikian juga Bali dengan kapasitas ekonomi regional 1.12% mampu menciptakan ekonomi koperasinya sebesar 4.0%. Berdasarkan pulau, Bali dan Nusa Tenggara yang hanya mempunyai kapasitas ekonomi 2.55% ternyata mampu menciptakan ekonomi koperasi sebesar 5.38% yang mengalahkan Jawa dengan kapasitas ekonomi regional mencapai 55.6% tapi hanya mampu menciptakan ekonomi koperasi sebesar 73.5%. Sumatera misalnya, dengan kapasitas ekonomi regionalnya mencapai 21.35% tapi hanya 12 mampu menciptakan ekonomi koperasi di Sumatera sebesar 13.26%, jauh di bawah kapasitasnya.

IV. Penutup
Dari uraian di atas dapat dinyatakan model analisis PEKR (Performa Ekonomi Koperasi Regional) dapat menjelaskan dengan baik posisi propinsi dalam perekonomian koperasi. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa peringkat tertinggi propinsi tidak selalu mencerminkan ukuran ekonomi regional yang tinggi secara nasional. Justru beberapa propinsi yang kapasitas ekonomi regionalnya rendah terhadap nasional menempati posisi yang tinggi ditinjau dari performanya. Penyebabnya terkait pada strategi mobilisasi kekuatan ekonomi yang tidak fokus pada koperasi. Walaupun para kepala daerah selalu menyatakan bahwa koperasi menjadi andalan untuk memajukan ekonomi rakyat, ternyata tidak mampu diwujudkan dalam proses pembangunan daerah. Dari kenyataan ini terindikasi adanya kecendurangan bahwa pernyataan yang mengutamakan peran koperasi sebagai sokoguru perekonomian rakyat lebih sekedar retorika politik dari kepala daerah yang performanya rendah.
Ditinjau dari kapasitas ekonomi regional dan ukuran ekonomi koperasi, kecenderungan terjadinya disparitas antar regional (propinsi, pulau, dan kawasan). Disparitas ini disebabkan oleh dukungan fasilitas (infrastruktur dan struktur) dan akses (pasar, informasi, dan finansial) yang sangat berbeda, serta jumlah penduduk yang lebih banyak. Disparitas ini tentunya tidak menguntungkan semua pihak baik secara lokal, regional, dan nasional. Semestinya, economic size yang tinggi akan menyebabkan cooperative economic size yang tinggi pula.
Untuk itu, sudah saatnya bagi kepala daerah yang peringkatnya rendah tapi kapasitas ekonominya tinggi meninjau kembali rencana strategi pembangunan daerah dan implementasi rencana tersebut agar tetap memberikan bobot yang tinggi pada koperasi. Hal ini dimungkinkan karena otonomi daerah memberikan keleluasaan kepala daerah untuk mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan spesifik lokal daerahnya. Peringkat rendah propinsi dalam pengembangan koperasi menjadi pemicu peningkatan persaingan antar daerah agar ekonomi koperasi semakin meningkat. Studi komparatif antar propinsi dimungkinkan untuk mengetahui bagaimana upaya pengembangan ekonomi koperasi. Misalnya, bagaimana Gorontalo yang kapasitas ekonomi regionalnya rendah secara nasional mampu menduduki peringkat teratas dalam performa ekonomi koperasi.

Kamis, 18 Juni 2015

Daily Activity



Daily Activity (On Weekend)

Hi i I am Hermawan, I will tell you my daily activity on weekend.

I always wake up at 05:30 am in the morning. And after that I go to bethroom to wash my face and brush my teeth. And then I take wudhu and pray subuh. After that I continue my sleep again and wake up at 09:00 am. And then I clean my bedroom. And then I take a shower. After I take shower, I have breakfast. And then I watch my television while I am waiting adzan zuhur, and pray zuhur. And then I play with my game  on the phone or laptop. After that I have a lunch. And than I pray ashar. After that I sweep my home. After that I take a shower. While I waiting adzan magrib. I watch my television. And when adzam magrib come, I fastly take wudhu and go to mosque. When I home I have my dinner with my fammily and than I go to mosque to pray isya. Afther that I do my task and study. And before I sleep I drink my milk and than I brush my teeth and take wudhu. Before I sleep I pray and go to dreamland.

Selasa, 05 Mei 2015

Topologi Jaringan



Topologi Jaringan

1.Topologi STAR
  
Pengertian
Adalah topologi yang menyerupai bintang, topologi ini memiliki satu perangkat inti yang berfungsi sebagai pengontrol dan pengatur lalu lintas data dalam jaringan, yakni sebuah terminal terpusat biasa disebut dengan HUB atau SWITCH, antara HUB dan SWITCH memang memiliki fungsi yang sama namun antara kedua terminal tersebut memiliki cara atau sistem kerja yang berbeda, sehingga terminal ini adalah dua perangkat jaringan yang berbeda. Topologi ini juga memiliki saudara serumpun yakni Ext. Star.
Karakteristik
·         Setiap node berkomunikasi langsung dengan konsentrator (Hub)
·         Bila setiap paket data yang masuk ke hub di-broadcast ke seluruh node yang terhubung sangat banyak, maka kinerja jaringan akan semakin turun.
·         Sangat mudah dikembangkan sebab setiap node hanya terhubung secara langsung ke konsentrator.
·         Jika salah satu kartu ethernet rusak atau salah satu kabel pada terminal putus, maka keseluruhan jaringan masih tetap bisa berkomunikasi.
Kelebihan :
·     Kerusakan pada satu saluran hanya akan memengaruhi jaringan pada saluran tersebut.
·     Tingkat keamanan termasuk tinggi.
·     Tahan terhadap lalu lintas jaringan yang sibuk.
·     Penambahan dan pengurangan station dapat dilakukan dengan mudah.
·     Akses Kontrol terpusat.
·     Kemudahan deteksi dan isolasi kesalahan / kerusakan pengelolaan jaringan.
·     Paling fleksibel, karena sangat mudah dalam melakukan penambahan komputer tanpa mengganggu komputer lainnya
Kekurangan :
·     Jika node tengah (Terminal) mengalami kerusakan, maka seluruh rangkaian akan berhenti.
·     Boros dalam pemakaian kabel.
·     HUB/SWITCH jadi elemen kritis karena kontrol terpusat.
·     Jika menggunakan hub/switch dan lalu lintas data padat dapat menyebabkan jaringan lambat.
·     biaya jaringan lebih mahal dari pada bus atau ring.


2. Topologi BUS

Pengertian
Topologi yang paling sederhana dengan sebuah kabel tunggal sebagai pusat aliran data dan  merupakan topologi yang banyak dipergunakan pada masa penggunaan kabel sepaksi menjamur. Dengan menggunakan T-Connector (dengan terminator 50ohm pada ujung network), maka komputer atau perangkat jaringan lainnya bisa dengan mudah dihubungkan satu sama lain.

Karakteristik :
·     Merupakan satu kabel yang kedua ujungnya di tutup dan sepanjang kabel terdapat node-node
·     Paling Sederhana dalam Instalasi‘
·     Signal melewati dua arah dengan satu kabel memungkinkan terjadi Collision (Tabrakan data).
·     Permasalahan terbesar jika terjadi putus atau longgar pada salah satu konektor maka seluruh jaringan akan berhenti/terganggu
·     Topologi Bus adalah jalur transmisi dimana signal diterima dan dikirim pada setiap alat/device yang tersambung pada satu garis lurus (kabel bone). signal hanya akan di tangkap oleh alat yang di tuju, sedangkan   alat lain yang bukan tujuan akan mengabaikan signal terebut/ hanya di lewati signal

Kelebihan :
·     Topologi yang banyak di gunakan di awal penggunaan jaringan computer karena topologi yang paling sederhana di banding dengan topologi lainnya.
·     Hemat kabel , pastinya kan hanya mengunakan 1 kabel tunggal.
·     Layout kabel sederhana, karena hanya sejalur saja.

Kekurangan :
·     Deteksi dan Isolasi kesalahan sangat kecil.
·     Kelemahan dari topologi ini adalah apabila terdapat gangguan di sepanjang kabel pusat maka keseluruhan jaringan akan mengalami ganguan.
·     Sering mengalami tabrakan data pada kabel bone akibat padatnya lalu lintas data pada kabel pusat.
·     Di perlukan Repeater untuk jarak Jauh.
·     Dibutuhkan penanganan yang khusus

3. Topologi RING

Pengertian
Merupakan topologi yang menyerupai BUS namun memiliki model melingkar seperti sebuah cicin, topologi RING biasa juga disebut sebagai topologi TOKEN RING. topologi ini memiliki saudara serumpun yaitu DUAL RING atau biasa disebut DOUBLE RING.
Karakteristik
·         Node-node dihubungkan secara serial di sepanjang kabel dengan bentuk jaringan seperti lingkaran.
·         Sangat sederhana dalam layout seperti jenis topologi bus.
·         Paket-paket data dapat mengalir dalam satu arah sehingga tabrakan dapat dihindarkan.
·         Masalah yang dihadapi sama dengan topologi bus, yaitu jika salah satu node rusak, maka seluruh jaringan tidak dapat berkomunikasi.

Kelebihan :
·     Desain dalam jaringan sangat mudah dan sederhana
·     Tidak membutuhkan banyak kabel jaringan untuk menghubungkannya (Hemat kabel)
·     Pada topologi ini tidak ada tabrakan pengiriman data atau collision seperti pada topologi jaringan bus
·     Mudah dalam deteksi kerusakan karena satu arah.

Kekurangan :
·     Peka terhadap kerusakan
·     Kaku dalam pengembangan jaringan
·     Sulit melakukan isolasi.
·     Satu jalur macet, akan mempengaruhi keseluruhan jaringan
·     Dibutuhkan penanganan yang khusus

4. Topologi TREE

Pengertian
Merupakan pengembangan dari topologi BUS yang memiliki percabagan menyerupai pohon dengan setiap cabangnya diberi terminal HUB/SWITCH.  Topologi Pohon adalah kombinasi karakteristik antara topologi star dan topologi bus. Topologi ini terdiri atas kumpulan topologi star yang dihubungkan dalam satu topologi bus sebagai backbone. Komputer – komputer dihubungkan ke hub, sedangkan hub lain di hubungkan sebagai jalur tulang punggung atau backbone.
Karakteristik
·    Dimulai dari satu titik yang disebut head-end. Dari head-end beberapa kabel ditarik menjadi cabang.
·      Pada setiap cabang terhubung beberapa terminal dalam bentuk bus atau dicabang lagi hingga menjadi rumit.

Kelebihan :
·     Seperti topologi star perangkat terhubung pada pusat pengendali / HUB.
·     Tetapi HUB dibagi menjadi dua, central HUB dan secondary HUB
·     Topologi tree ini memiliki keunggulan lebih mampu menjangkau jarak yang lebih jauh dengan mengaktifkan fungsi Repeater yang dimiliki oleh HUB.

Kekurangan :
·     Kabel yang digunakan menjadi lebih banyak sehingga diperlukan perencanaan yang matang dalam pengaturannya , termasuk di dalamnya adalah tata letak ruangan.

5. Topologi LINIER


Pengertian
Jaringan komputer dengan topologi linier biasa disebut dengan topologi bus beruntut, tata letak ini termasuk tata letak umum. Satu kabel utama menghubungkan tiap titik sambungan (komputer) yang dihubungkan dengan penyambung yang disebut dengan Penyambung-T dan pada ujungnya harus diakhiri dengan sebuah penamat (terminator). Penyambung yang digunakan berjenis BNC (British Naval Connector: Penyambung Bahari Britania), sebenarnya BNC adalah nama penyambung bukan nama kabelnya, kabel yang digunakan adalah RG 58 (Kabel Sepaksi Thinnet). Pemasangan dari topologi bus beruntut ini sangat sederhana dan murah tetapi sebanyaknya hanya dapat terdiri dari 5-7 komputer.

Karakteristik
-

Kelebihan :
·     Hemat kabel,
·     Tata letak kabel sederhana,
·     Mudah dikembangkan
·     Penambahan maupun pengurangan penamat dapat dilakukan tanpa mengganggu operasi yang berjalan.
Kekurangan :
·     Deteksi dan isolasi kesalahan sangat kecil,
·     Kepadatan lalu lintas tinggi,
·     Keamanan data kurang terjamin,
·     Kecepatan akan menurun bila jumlah pemakai bertambah
·     Diperlukan repeater untuk jarak jauh.

6. Topologi MESH


Pengertian
Merupakan topologi yang menyerupai jala / jaring laba-laba, mengapa ? sebab disetiap node, client atau workstation akan dipasangkan kartu jaringan sesuai dengan jumlah komputer yang ada dalam satu jaringan dan setiap komputer akan saling terhubung dan terkoneksi secara secara langsung.

Karakteristik
·        Topologi mesh memiliki hubungan yang berlebihan antara peralatan-peralatan yang ada.
·     Susunannya pada setiap peralatan yang ada di dalam jaringan saling terhubung satu sama lain.
·  Jika jumlah peralatan yang terhubung sangat banyak, maka akan sulit untuk mengendalikannya dibandingkan jika hanya sedikit peralatan yang terhubung.


Kelebihan :
·     Hubungan dedicated, antara komputer yang satu dengan yang lainnya saling terhubung dengan langsung
·     Memiliki sifat Robust, Apabila terjadi gangguan pada koneksi komputer A dengan komputer B karena rusaknya kabel koneksi (links) antara A dan B, maka gangguan tersebut tidak akan memengaruhi koneksi komputer A dengan komputer lainnya.
·     Privacy dan Security pada topologi mesh lebih terjamin.
·     Mudah identifikasi permasalahan
Kekurangan :
·     Membutuhkan banyak kabel dan Port I/O. semakin banyak komputer di dalam topologi mesh maka diperlukan semakin banyak kabel links dan port I/O (lihat rumus penghitungan kebutuhan kabel dan Port).
·     Karena setiap komputer harus terkoneksi secara langsung dengan komputer lainnya maka instalasi dan konfigurasi menjadi lebih sulit.
·     Banyaknya kabel yang digunakan
·     Biaya mahal


7. Topologi HYBRID


Pengertian
Topologi hybrid merupakan penggabungan dari beberapa topologi menjadi satu, misal penggabungan topologi star dengan topologi bus atau beberapa topologi lainnya menjadi satu jaringan. topologi ini memiliki kehandalan yang dimiliki oleh setiap topologi yang digunakan namun juga memiliki kekurangan sesuai dengan kekurangan setiap topologi yang digunakan.
Karakteristik
-
Kelebihan :
·     Fleksibilitas.
· Hybrid mengkombinasikan konfigurasi yang berbeda tapi dapat bekerja dengan sempurna untuk jumlah lalu lintas jaringan yang berbeda.
·     Menambahkan koneksi periferal lain cukup mudah.
·   Dibandingkan dengan jenis topologi komputer lainya, topologi ini terpercaya. Memiliki toleransi kesalahan yang lebih baik. ketika sejumlah topologi berbeda terhubung ke satu sama lain
·   Ketika link tertentu dalam jaringan komputer mengalami gangguan, tidak menghambat kerja dari jaringan lainnya.
·     Dapat diimplementasikan dengan topologi lainnya tanpa merupa jenis topologi.
·     Kecepatan topologi konsisten dan efisien.
·  Mengabaikan kelemahan topologi lainnya dan hanya akan dipertimbangkan segi kekuatannya

Kekurangan :
·     Pengelolaan topologi  akan menjadi lebih sulit.
·     Biaya mahal
·     Instalasi dan konfigurasi dari topologi ini sulit karena ada topologi yang berbeda yang harus dihubungkan satu sama lainnya, pada saat yang sama harus dipastikan bahwa tidak satupun dari node dijaringan gagal berfungsi sehingga membuat instalasi dan konfigurasi topologi hybrid menjadi sangat sulit.

8. Topologi BROADCAST


Pengertian
Topologi broadcast merupakan jenis topologi logical, Secara sederhana dapat digambarkan yaitu suatu host yang mengirimkan data kepada seluruh host lain pada media jaringan

Karakteristik
-
Kelebihan
-
Kekurangan
-

9. Topologi HIERARKI

Pengertian
Berbentuk seperti pohon bercabang yang terditi dari komputer induk (host) yang diswitchungkan dengan simpul atau node lain secara berjenjang, jenjang yang lebih tinggi berfungsi sebagai pengetur kerja jenjang dibawahnya, biasanya topologi ini digunakan oleh perusahaan besar atau lembaga besar yang mempunyai beberapa cabang daerah, sehingga data dari pusat bisa didistribusikan ke cabang atau sebaliknya.
Karakteristik
-
Kelebihan :
·     Data terpusat secara hirarki sehingga manajeman data lebih baik dan mudah
·     Terkontrol, Mudah dikembangkan menjadi jaringan yang lebih luas
Kekurangan :
·     Komputer di bawahnya tidak dapat dioprasikan apabila kabel pada komputer tingkat atasnya terputus
·     Dapat terjadi tabrakan file (collision)

10. Topologi PEER TO PEER


Pengertian
Juga merupakan type topologi jaringan yang merupakan cikal bakal munculnya berbagai jenis topologi jaringan seperti sebelumnya. Merupakan jaringan komputer yang hanya menghubungkan dua atau lebih komputer dimana kedua komputer bisa menjadi server maupun client, jadi tidak ada perbedaan antara client dan server
Karakteristik
-
Kelebihan :
·     Antar komputer dalam jaringan dapat saling berbagi-pakai fasilitas yang dimilikinya seperti: harddisk, drive, fax/modem, printer
·     Biaya operasional relatif lebih murah dibandingkan dengan tipe jaringan client-server, salah satunya karena tidak memerlukan adanya server yang memiliki kemampuan khusus untuk mengorganisasikan dan menyediakan fasilitas jaringan.
·     Kelangsungan kerja jaringan tidak tergantung pada satu server. Sehingga bila salah satu komputer/peer mati atau rusak, jaringan secara keseluruhan tidak akan mengalami gangguan.
Kekurangan :
·     Troubleshooting jaringan relatif lebih sulit, karena pada jaringan tipe peer to peer setiap komputer dimungkinkan untuk terlibat dalam komunikasi yang ada. Di jaringan client-server, komunikasi adalah antara server dengan workstation.
·     Unjuk kerja lebih rendah dibandingkan dengan jaringan client- server, karena setiap komputer/peer isamping harus mengelola emakaian fasilitas jaringan juga harus mengelola pekerjaan atau aplikasi sendiri.
·     Sistem keamanan jaringan ditentukan oleh masing-masing user dengan mengatur masing- masing fasilitas yang dimiliki
·     Karena data jaringan tersebar di masing-masing komputer dalam jaringan, maka backup harus dilakukan oleh masing- masing komputer tersebut.